Ada sesuatu yang sering membuat dunia kagum ketika melihat Jepang.
Bukan hanya teknologinya.
Bukan hanya kereta yang datang tepat waktu.
Bukan hanya kota-kotanya yang dikenal bersih.
Tetapi sesuatu yang jauh lebih sederhana:
cara masyarakat Jepang memperlakukan orang lain.
Membungkuk ketika memberi salam.
Mengucapkan terima kasih.
Menghormati orang yang lebih tua.
Menjaga ketenangan di ruang publik.
Mengantre dengan tertib.
Menjaga kebersihan lingkungan yang digunakan bersama.
Bahkan memperhatikan agar keberadaan kita tidak menyusahkan orang lain.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, ketika dilakukan oleh jutaan orang secara konsisten selama puluhan tahun, sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi budaya.
Dan budaya, pada akhirnya, dapat ikut membentuk wajah sebuah masyarakat.
Pertanyaannya kemudian:
Bagaimana jika kebiasaan-kebiasaan tersebut sudah dikenalkan kepada anak sejak berada di lingkungan sekolah?
Apakah Sopan Santun Lebih Penting daripada Ilmu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar ekstrem.
Bukankah sekolah seharusnya mengajarkan matematika, sains, bahasa, teknologi, dan berbagai ilmu pengetahuan?
Tentu.
Ilmu sangat penting.
Namun, ilmu tanpa karakter dapat kehilangan arah.
Seseorang bisa sangat pintar, tetapi menggunakan kepintarannya untuk menipu.
Seseorang bisa memiliki kemampuan teknologi yang luar biasa, tetapi menggunakannya untuk merugikan orang lain.
Seseorang bisa memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak mampu menghormati orang di sekitarnya.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya bertanya:
“Apa yang anak ketahui?”
Tetapi juga:
“Bagaimana anak menggunakan apa yang diketahuinya?”
Ilmu membuat seseorang mampu melakukan sesuatu.
Sementara karakter membantu seseorang memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan kata lain:
Kepandaian membuat kita hebat. Adab membuat kehebatan kita bermanfaat.
Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan karakter di Jepang menarik untuk dipelajari.
Jepang Tidak Hanya Mengajarkan Anak untuk Pintar
Dalam sistem pendidikan Jepang, pendidikan moral atau dōtoku (道徳) memiliki tempat yang jelas.
Kementerian Pendidikan Jepang atau MEXT menjelaskan bahwa pendidikan moral bertujuan membangun moralitas yang menjadi dasar kehidupan sebagai warga negara, termasuk penghormatan terhadap martabat manusia, kehidupan, orang lain, masyarakat, tradisi, dan budaya.
Yang menarik, pendidikan moral tidak hanya dipandang sebagai sebuah pelajaran yang berdiri sendiri.
Nilai-nilai tersebut diharapkan hadir dalam berbagai aktivitas pendidikan.
Anak dapat belajar tentang:
- salam dan cara berbicara yang baik;
- memperlakukan orang lain dengan tulus;
- membantu teman;
- menghargai dan berterima kasih kepada orang lain;
- menaati aturan;
- menjaga barang yang digunakan bersama;
- memahami tanggung jawab;
- menghormati orang lain;
- serta hidup dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat.
Perhatikan sesuatu yang menarik.
Pendidikan karakter bukan hanya tentang membuat anak mengetahui mana yang benar.
Tetapi juga membantu anak mempraktikkan hal yang benar.
Karena mengetahui bahwa sesuatu itu baik belum tentu membuat seseorang terbiasa melakukannya.
Karena Adab Tidak Cukup Diajarkan, tetapi Harus Dilatih
Kita dapat mengatakan kepada anak:
“Jangan membuang sampah sembarangan.”
Namun, pendidikan yang lebih dalam adalah membantu anak memahami:
“Mengapa saya tidak boleh membuat lingkungan yang digunakan bersama menjadi kotor?”
Kita dapat mengatakan:
“Harus antre.”
Tetapi anak juga perlu memahami:
“Mengapa saya harus menghargai hak orang lain?”
Kita dapat mengatakan:
“Harus menghormati guru.”
Namun, anak juga perlu memahami:
“Mengapa setiap manusia layak diperlakukan dengan hormat?”
Di sinilah pendidikan karakter berbeda dari sekadar memberikan nasihat.
Anak perlu mengalami.
Anak perlu melakukan.
Anak perlu melihat contoh.
Kemudian anak perlu mengulanginya.
Sampai akhirnya perilaku tersebut tidak lagi terasa sebagai sebuah aturan.
Ia menjadi kebiasaan.
Dan ketika kebiasaan baik dilakukan bersama-sama dalam waktu yang panjang, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi budaya.
Sekolah Jepang: Anak Belajar Menjadi Bagian dari Komunitas
Salah satu karakter pendidikan Jepang yang menarik adalah Special Activities.
Melalui aktivitas kelas, kegiatan siswa, klub, dan berbagai kegiatan sekolah, anak belajar bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok.
Anak belajar bekerja sama.
Anak belajar berdiskusi.
Anak belajar mengambil tanggung jawab.
Anak belajar menyelesaikan persoalan bersama.
Bahkan aktivitas sederhana dalam kehidupan sekolah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.
Karena sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan.
Sekolah juga dapat menjadi miniatur masyarakat.
Di dalamnya anak belajar:
- Bagaimana hidup bersama?
- Bagaimana menghargai orang lain?
- Bagaimana menyelesaikan perbedaan?
- Bagaimana bertanggung jawab?
- Bagaimana membuat lingkungan bersama menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu muncul dalam ujian.
Tetapi jawabannya akan dibutuhkan anak ketika mereka hidup di tengah masyarakat.
Dari Hal Kecil, Anak Belajar Tentang Tanggung Jawab
Kita sering melihat gambaran siswa Jepang membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah.
Namun, hal yang menarik bukan hanya aktivitas membersihkannya.
Yang jauh lebih penting adalah pesan pendidikan di balik aktivitas tersebut.
Anak belajar bahwa ruang yang digunakan bersama juga merupakan tanggung jawab bersama.
Ada perbedaan besar antara:
“Ada orang yang bertugas membersihkan.”
dan:
“Saya ikut bertanggung jawab atas lingkungan tempat saya berada.”
Perbedaan dalam cara berpikir tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun, apabila ditanamkan sejak kecil dan dilakukan secara konsisten, dampaknya dapat menjadi besar.
Anak belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang:
“Apa yang saya dapatkan?”
Tetapi juga:
“Apa yang saya berikan kepada lingkungan saya?”
Inilah bentuk pendidikan karakter yang tidak selalu membutuhkan teori panjang.
Terkadang, anak cukup diberikan kesempatan untuk mengalami dan melakukan sesuatu secara langsung.
Adab Membentuk Peradaban Secara Perlahan
Peradaban tidak selalu dibangun oleh sesuatu yang spektakuler.
Terkadang, peradaban dibangun oleh jutaan tindakan kecil.
Membuang sampah pada tempatnya.
Mengantre.
Mengucapkan terima kasih.
Menghormati orang lain.
Menepati waktu.
Tidak membuat orang lain merasa terganggu.
Menjaga fasilitas umum.
Membantu orang yang membutuhkan.
Mengerjakan tanggung jawab meskipun tidak ada yang melihat.
Satu tindakan mungkin terlihat tidak berarti.
Tetapi bayangkan jika jutaan orang melakukan tindakan yang sama setiap hari.
Di situlah karakter individu dapat berkembang menjadi karakter masyarakat.
Dan karakter masyarakat perlahan membentuk peradaban.
Pendidikan Jepang Tidak Berarti Tanpa Kekurangan
Mengagumi sesuatu bukan berarti menganggapnya sempurna.
Jepang juga memiliki berbagai tantangan dalam sistem pendidikannya.
Karena itu, kita tidak perlu mengatakan:
“Indonesia harus menjadi Jepang.”
Tidak.
Indonesia memiliki sejarah, budaya, masyarakat, nilai, serta tantangannya sendiri.
Yang lebih penting adalah bertanya:
“Apa yang bisa kita pelajari?”
Salah satu hal yang menarik untuk dipelajari adalah bagaimana nilai seperti tanggung jawab, rasa hormat, disiplin, kepedulian terhadap orang lain, dan kehidupan bersama dapat diterjemahkan menjadi pengalaman pendidikan sehari-hari.
Karena pendidikan karakter akan lebih bermakna ketika anak tidak hanya mendengarnya di kelas, tetapi juga melihat dan mengalaminya dalam kehidupan sekolah.
Pendidikan Moral Jepang Juga Terus Berkembang
Hal menarik lainnya adalah pendidikan moral Jepang sendiri tidak berhenti pada hafalan tentang baik dan buruk.
Pendekatan pendidikan moral juga mendorong anak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai persoalan moral.
Ini penting.
Sebab kehidupan nyata jarang memberikan pilihan yang sesederhana:
benar atau salah.
Kadang kita harus menentukan apa yang paling adil.
Kadang kita harus memilih antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan kelompok.
Kadang kita harus belajar memahami orang yang berbeda dengan kita.
Karena itu, pendidikan karakter bukan hanya:
“Jangan lakukan ini.”
Tetapi juga:
“Mengapa?”
“Bagaimana jika situasinya berbeda?”
“Bagaimana perasaan orang lain?”
“Apa konsekuensi dari pilihan kita?”
Dengan demikian, anak tidak hanya belajar mematuhi aturan.
Mereka juga belajar memahami nilai di balik aturan tersebut.
Ilmu dan Adab Seharusnya Tidak Dipisahkan
Pada akhirnya, kita tidak perlu memilih antara ilmu atau adab.
Anak membutuhkan keduanya.
Ilmu tanpa karakter dapat berbahaya.
Tetapi karakter tanpa ilmu juga memiliki keterbatasan.
Kita ingin anak menjadi pintar.
Tetapi kita juga ingin mereka menjadi baik.
Kita ingin mereka mampu bersaing.
Tetapi kita juga ingin mereka mampu menghargai orang lain.
Kita ingin mereka sukses.
Tetapi kita juga ingin mereka memahami arti tanggung jawab.
Kita ingin mereka memiliki karier yang hebat.
Tetapi kita juga ingin mereka menjadi manusia yang ketika berhasil tidak melupakan orang lain.
Karena pada akhirnya:
Pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan manusia yang tahu banyak, tetapi manusia yang tahu bagaimana menggunakan apa yang diketahuinya dengan benar.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendidikan Jepang?
Bagi orang tua, pembelajaran dari Jepang tidak harus diterapkan dalam bentuk yang sama persis.
Tidak harus membuat anak mengikuti seluruh sistem pendidikan Jepang.
Tidak pula berarti setiap sekolah harus memiliki kebiasaan yang sama.
Namun, orang tua dapat mulai memperhatikan apakah lingkungan pendidikan anak memberikan ruang untuk membangun kebiasaan positif.
Misalnya:
Anak Belajar Menghargai Orang Lain
Bukan hanya mengetahui bahwa menghormati orang lain itu penting, tetapi terbiasa mengucapkan salam, berterima kasih, mendengarkan, dan berbicara dengan baik.
Anak Belajar Bertanggung Jawab
Anak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri dan memahami konsekuensi dari tindakannya.
Anak Belajar Hidup Bersama
Anak mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama, berdiskusi, membantu teman, dan menyelesaikan perbedaan.
Anak Belajar Menjaga Lingkungan
Anak memahami bahwa lingkungan yang digunakan bersama bukan hanya tanggung jawab orang lain.
Anak Belajar Memahami, Bukan Sekadar Mematuhi
Anak tidak hanya diberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga diajak memahami alasan dan nilai di baliknya.
Apa yang Bisa Dipelajari Akses Independent School?
Di Akses Independent School, kami melihat pendidikan sebagai perjalanan yang tidak pernah selesai.
Kami mengagumi bagaimana Jepang menunjukkan bahwa sopan santun tidak harus menjadi sesuatu yang hanya dibicarakan dalam pidato atau ditulis di buku pelajaran.
Nilai tersebut dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari:
- cara menyapa;
- cara berbicara;
- cara memperlakukan teman;
- cara menjaga lingkungan;
- cara bertanggung jawab;
- serta cara memahami bahwa kita hidup bersama orang lain.
Kami percaya bahwa pendidikan karakter tidak dibangun dalam satu hari.
Ia dibangun sedikit demi sedikit.
Satu kebiasaan.
Satu teladan.
Satu tindakan.
Kemudian diulang.
Dan akhirnya menjadi karakter.
Karakter yang dimiliki seorang anak mungkin terlihat kecil.
Namun, ketika karakter baik tumbuh pada banyak anak, ia dapat menjadi kekuatan yang besar bagi masyarakat.
Kami Juga Masih Terus Belajar
Akses Independent School tidak ingin mengatakan bahwa kami sudah menemukan semua jawabannya.
Justru sebaliknya.
Kami masih belajar.
Kami belajar dari Indonesia.
Kami belajar dari pengalaman anak-anak.
Kami belajar dari orang tua.
Kami belajar dari guru-guru.
Dan kami juga belajar dari berbagai sistem pendidikan di dunia.
Termasuk dari Jepang.
Kami ingin terus memahami bagaimana pendidikan karakter dapat dibangun bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui budaya sekolah.
Karena kami percaya:
Anak tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan.
Mereka belajar dari apa yang guru lakukan.
Mereka belajar dari bagaimana sekolah memperlakukan mereka.
Mereka belajar dari bagaimana teman-temannya diperlakukan.
Dan mereka belajar dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Karena itu, tim pengajar Akses Independent School akan terus belajar, terus mengevaluasi diri, dan terus mengembangkan cara mendidik anak agar semakin relevan dengan dunia yang terus berubah—tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak pernah lekang oleh zaman.
Kami ingin anak-anak memiliki ilmu.
Tetapi kami juga ingin mereka memiliki hati.
Kami ingin mereka mampu bersaing dengan dunia.
Tetapi kami juga ingin mereka mampu menghargai dunia.
Kami ingin mereka menjadi pribadi yang hebat.
Tetapi lebih dari itu, kami ingin mereka menjadi pribadi yang bermanfaat.
Karena Pendidikan Bukan Hanya Tentang Menjadi Pintar
Mungkin, pada akhirnya, pendidikan terbaik bukanlah ketika seorang anak dapat berkata:
“Saya tahu banyak.”
Melainkan ketika ia mampu berkata:
“Saya tahu banyak, dan saya tahu bagaimana menggunakan pengetahuan itu untuk menjadi manusia yang baik.”
Itulah pendidikan yang ingin terus kami perjuangkan di Akses Independent School.
Karena bagi kami, anak tidak hanya perlu dipersiapkan untuk mendapatkan masa depan yang baik.
Mereka juga perlu dipersiapkan untuk menjadi bagian dari masyarakat yang baik.
Dan semuanya dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana:
cara berbicara, cara bersikap, cara menghargai orang lain, dan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.
Konsultasi Pendidikan Sekarang →
https://ai-school.id/
Lihat Program Formal School →
https://ai-school.id/formal-school/pre-school/
Lihat Program Homeschooling →
https://ai-school.id/homeschooling/