Lompat ke konten utama

Akses Independent School

Apa yang sebenarnya harus dipersiapkan oleh sebuah sekolah?

Apakah anak harus mendapatkan nilai setinggi mungkin?

Apakah anak harus menguasai sebanyak mungkin mata pelajaran?

Atau justru sekolah perlu mempersiapkan anak agar mampu menghadapi kehidupan yang bentuknya bahkan belum kita ketahui hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat.

Teknologi berkembang. Artificial Intelligence atau AI mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan. Cara manusia berkomunikasi berubah. Banyak pekerjaan baru bermunculan, sementara pekerjaan yang sudah ada terus mengalami transformasi.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan menghadapi tantangan besar:

Bagaimana sekolah mempersiapkan anak untuk dunia yang bahkan belum sepenuhnya ada hari ini?

Finlandia memberikan salah satu perspektif yang menarik.

Bukan karena sistem pendidikan Finlandia harus ditiru begitu saja, tetapi karena ada satu prinsip yang layak dipelajari:

Pendidikan harus terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat dan kehidupan.

Finlandia: Sekolah yang Melihat Pendidikan Lebih dari Sekadar Mata Pelajaran

Ketika mendengar tentang sistem pendidikan Finlandia, sebagian orang mungkin membayangkan sekolah yang sama sekali tidak menggunakan mata pelajaran.

Anggapan tersebut kurang tepat.

Sekolah di Finlandia tetap mengajarkan berbagai bidang seperti matematika, bahasa, sains, sejarah, seni, olahraga, dan bidang pembelajaran lainnya.

Yang menarik adalah bagaimana pengetahuan tersebut dihubungkan dengan kompetensi yang lebih luas dan kehidupan nyata.

Dalam kurikulum nasional Finlandia terdapat konsep transversal competences, yaitu kompetensi yang berkembang melalui berbagai mata pelajaran dan situasi pembelajaran.

Kompetensi tersebut mencakup:

  • kemampuan berpikir dan learning to learn;
  • kompetensi budaya, interaksi, dan ekspresi diri;
  • kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari;
  • multiliterasi;
  • kompetensi teknologi informasi dan komunikasi;
  • kompetensi dunia kerja dan kewirausahaan;
  • partisipasi sosial dan membangun masa depan yang berkelanjutan.

Dengan pendekatan seperti ini, matematika bukan hanya tentang menghitung.

Bahasa bukan hanya tentang tata bahasa.

Teknologi bukan hanya tentang menggunakan komputer.

Dan kewirausahaan bukan hanya tentang bagaimana menjadi seorang pengusaha.

Pengetahuan tetap penting, tetapi anak juga perlu belajar bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan.

Kalau Dunia Kerja Berubah, Sekolah Juga Harus Berubah

Bayangkan seorang anak yang hari ini berusia 10 tahun.

Ketika ia memasuki dunia kerja nanti, sebagian teknologi yang digunakan mungkin belum ditemukan hari ini.

Pekerjaan yang sekarang populer mungkin sudah berubah.

Cara manusia bekerja mungkin juga tidak lagi sama.

Karena itu, pertanyaan pendidikan tidak cukup hanya:

“Apa pekerjaan yang akan dilakukan anak saya nanti?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kemampuan apa yang membuat anak saya mampu beradaptasi dengan pekerjaan apa pun yang mungkin muncul di masa depan?”

Di sinilah pendekatan pendidikan Finlandia memberikan pelajaran menarik.

Dalam kurikulum mereka, working life competence and entrepreneurship menjadi salah satu bagian dari kompetensi lintas bidang.

Artinya, dunia kerja tidak dipandang sebagai sesuatu yang baru perlu dikenalkan setelah anak lulus sekolah.

Persiapannya dapat dimulai sejak proses pendidikan.

Bukan berarti anak harus diperlakukan seperti pekerja sejak dini.

Tetapi anak perlu belajar keterampilan yang akan membantunya menghadapi kehidupan profesional kelak, seperti berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan terus belajar.

Sekolah dan Dunia Kerja Tidak Boleh Berjalan di Dua Dunia yang Berbeda

Ada tantangan yang dapat terjadi dalam sistem pendidikan mana pun.

Sekolah mengajarkan satu hal.

Dunia kerja membutuhkan hal lain.

Anak kemudian lulus dengan pengetahuan akademik yang cukup, tetapi masih perlu belajar kembali bagaimana bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan masalah, menggunakan teknologi, mengambil keputusan, dan menghadapi situasi yang tidak memiliki satu jawaban pasti.

Pendekatan pendidikan Finlandia berusaha memperkecil jarak tersebut.

Bukan dengan menjadikan sekolah seperti kantor.

Bukan pula dengan menjadikan anak seperti pekerja sejak dini.

Tetapi dengan membawa kompetensi kehidupan dan dunia kerja ke dalam proses belajar.

Sekolah tetaplah sekolah.

Namun, apa yang dipelajari di dalamnya memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan nyata.

Anak tidak hanya belajar:

“Apa jawabannya?”

Tetapi juga:

“Mengapa jawabannya seperti itu?”

“Bagaimana pengetahuan ini digunakan?”

“Bagaimana saya bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikannya?”

Cara berpikir seperti inilah yang dapat membantu anak menghadapi persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.

Guru Bukan Sekadar Penyampai Materi

Pembicaraan mengenai pendidikan Finlandia juga tidak dapat dipisahkan dari peran guru.

Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi dari buku kepada siswa.

Guru memiliki peran penting dalam merancang pengalaman belajar, memahami kebutuhan siswa, dan menentukan pendekatan yang sesuai.

Karena itu, guru membutuhkan kompetensi yang kuat.

Semakin besar ruang profesional yang dimiliki seorang guru, semakin besar pula tanggung jawab yang harus diembannya.

Guru perlu memahami bukan hanya apa yang harus diajarkan, tetapi juga bagaimana anak belajar.

Inilah hubungan yang penting dalam pendidikan:

Kepercayaan membutuhkan tanggung jawab.

Dan tanggung jawab membutuhkan kompetensi.

Guru pun perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Karena dunia yang berubah menuntut guru untuk terus memperbarui pengetahuan, memahami teknologi baru, mengevaluasi metode pembelajaran, dan mengenali kebutuhan generasi yang terus berkembang.

Phenomenon-Based Learning: Ketika Anak Belajar dari Dunia Nyata

Salah satu konsep pendidikan Finlandia yang banyak menarik perhatian adalah phenomenon-based learning atau pembelajaran berbasis fenomena.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Pendekatan ini bukan berarti Finlandia menghapus mata pelajaran dan menggantinya sepenuhnya dengan pembelajaran berbasis fenomena.

Pembelajaran berbasis fenomena merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan bersama berbagai metode pedagogis lainnya.

Lalu, seperti apa penerapannya?

Bayangkan anak sedang mempelajari persoalan perubahan iklim.

Alih-alih melihat persoalan tersebut hanya dari satu mata pelajaran, anak dapat diajak memahami fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang.

Ada sains.

Ada geografi.

Ada matematika.

Ada teknologi.

Ada ekonomi.

Ada komunikasi.

Bahkan ada persoalan sosial dan etika.

Satu persoalan kehidupan nyata dapat membutuhkan banyak jenis pengetahuan sekaligus.

Dan bukankah memang seperti itu cara dunia bekerja?

Masalah nyata tidak datang dalam bentuk:

“Soal matematika nomor 1.”

“Soal IPA nomor 2.”

“Soal ekonomi nomor 3.”

Masalah nyata datang sebagai sebuah persoalan yang harus dipahami dari berbagai sudut pandang.

Pendidikan Bukan Hanya Membentuk Anak yang Pintar

Anak yang mendapatkan nilai akademik tinggi tentu merupakan sesuatu yang baik.

Pengetahuan akademik tetap penting.

Namun, dunia membutuhkan lebih dari sekadar nilai.

Dunia juga membutuhkan orang yang mampu:

  • berpikir kritis;
  • bertanya;
  • bekerja sama;
  • berkomunikasi;
  • menciptakan sesuatu;
  • memecahkan masalah;
  • mengambil keputusan;
  • belajar kembali;
  • beradaptasi terhadap perubahan.

Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi seperti Artificial Intelligence semakin mudah digunakan.

Ketika teknologi mampu membantu manusia mengerjakan semakin banyak pekerjaan rutin, kemampuan manusia yang lebih kompleks menjadi semakin penting.

Misalnya:

Kemampuan untuk bertanya.

Kemampuan memahami konteks.

Kemampuan membedakan informasi yang benar dan salah.

Kemampuan bekerja dengan orang lain.

Kemampuan menghasilkan ide.

Dan yang tidak kalah penting:

Kemampuan untuk terus belajar.

Anak Perlu Belajar Bagaimana Cara Belajar

Dunia masa depan mungkin membutuhkan pengetahuan yang belum kita ajarkan kepada anak hari ini.

Karena itu, salah satu bekal paling penting yang dapat diberikan sekolah bukan hanya sekumpulan pengetahuan, tetapi kemampuan untuk belajar sepanjang hidup.

Anak yang mengetahui cara belajar akan lebih siap ketika menghadapi sesuatu yang belum pernah ditemuinya.

Ia dapat mencari informasi.

Mengevaluasi informasi.

Mencoba.

Melakukan kesalahan.

Memperbaiki kesalahan.

Kemudian mencoba kembali.

Inilah yang membuat learning to learn menjadi penting.

Sekolah tidak harus mengetahui semua jawaban untuk masa depan.

Namun, sekolah perlu membantu anak memiliki kemampuan untuk mencari jawaban ketika menghadapi masa depan tersebut.

Bahkan Finlandia Sendiri Terus Belajar

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan pendidikan Finlandia.

Finlandia sendiri tidak menganggap sistem pendidikannya sudah selesai.

Pendidikan terus dievaluasi dan dikembangkan mengikuti perubahan masyarakat.

Dalam visi pendidikan dasar Finlandia hingga 2045, misalnya, kesejahteraan guru, pengembangan profesional berkelanjutan, kondisi kerja, serta kemampuan guru untuk terus berkembang menjadi bagian penting dari pembahasan masa depan pendidikan.

Hasil TALIS 2024 juga menunjukkan bahwa guru di Finlandia secara umum masih memiliki tingkat kepuasan kerja yang baik, tetapi menghadapi tantangan baru, termasuk meningkatnya keberagaman siswa dan kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan baru.

Pesannya sederhana.

Bahkan negara yang sering dijadikan contoh dalam pendidikan pun tidak mengatakan:

“Kami sudah berhasil. Tidak perlu berubah lagi.”

Justru sebaliknya.

Mereka terus bertanya:

“Apa yang harus kita pelajari berikutnya?”

Dan mungkin, pertanyaan itulah yang juga perlu dimiliki setiap sekolah.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Finlandia?

Tentu saja, sistem pendidikan Finlandia tidak dapat begitu saja dipindahkan ke Indonesia.

Setiap negara memiliki budaya, kondisi masyarakat, kebutuhan, sumber daya, dan tantangan yang berbeda.

Karena itu, yang perlu dipelajari bukan sekadar bentuk ruang kelasnya.

Bukan hanya jumlah pekerjaan rumah.

Bukan pula sekadar berapa lama anak berada di sekolah.

Yang lebih penting adalah cara berpikir di balik pendidikan tersebut.

Bahwa pendidikan perlu memiliki hubungan dengan kehidupan.

Bahwa guru perlu terus berkembang.

Bahwa anak perlu belajar bagaimana belajar.

Bahwa pengetahuan perlu digunakan untuk memahami persoalan nyata.

Dan bahwa sekolah perlu berani melihat ke depan.

Karena ketika seorang anak masuk sekolah hari ini, kita sebenarnya sedang mempersiapkannya untuk menghadapi dunia beberapa tahun, bahkan beberapa dekade, mendatang.

Apa Artinya bagi Orang Tua?

Bagi orang tua, pembahasan mengenai pendidikan Finlandia mungkin menimbulkan satu pertanyaan:

“Lalu, apa yang seharusnya saya cari ketika memilih sekolah untuk anak?”

Jawabannya tidak harus berupa sekolah yang meniru Finlandia.

Orang tua dapat mulai melihat lebih jauh daripada sekadar fasilitas dan nilai akademik.

Coba perhatikan beberapa hal berikut:

1. Apakah Anak Didorong untuk Berpikir?

Anak tidak hanya diberikan jawaban, tetapi juga diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi.

2. Apakah Anak Belajar dari Kehidupan Nyata?

Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika anak dapat melihat hubungan antara apa yang dipelajari dengan dunia di sekitarnya.

3. Apakah Anak Mengembangkan Keterampilan Sosial?

Kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan masalah bersama juga merupakan bagian penting dari perkembangan anak.

4. Apakah Guru Terus Berkembang?

Guru merupakan bagian penting dari pengalaman pendidikan anak.

Karena itu, budaya belajar guru juga menjadi salah satu hal yang layak diperhatikan orang tua.

5. Apakah Sekolah Mempersiapkan Anak untuk Masa Depan?

Sekolah tidak dapat mengetahui secara pasti seperti apa dunia masa depan.

Namun, sekolah dapat membantu anak memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan tersebut.

Akses Independent School: Guru Juga Harus Menjadi Pembelajar

Prinsip tersebut menjadi salah satu hal yang terus kami renungkan di Akses Independent School.

Kami percaya bahwa sulit meminta anak menjadi lifelong learner apabila gurunya sendiri berhenti belajar.

Dunia pendidikan berubah.

Teknologi berubah.

Artificial Intelligence berkembang.

Cara anak belajar berubah.

Dunia pekerjaan juga berubah.

Maka, cara guru mengajar pun perlu terus berkembang.

Karena itu, tim pengajar Akses Independent School berusaha untuk terus mengembangkan diri, memperbarui pengetahuan, mempelajari pendekatan pembelajaran baru, memahami perkembangan teknologi, dan terus belajar.

Bukan karena kami merasa sudah sempurna.

Justru karena kami menyadari bahwa tidak ada guru yang selesai belajar.

Kami ingin terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia tanpa kehilangan hal yang paling penting dalam pendidikan:

membantu setiap anak menemukan potensinya, membangun karakter, mengembangkan kemampuan berpikir, dan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan nyata.

Pendidikan Bukan Sekadar Mempersiapkan Anak Menghadapi Ujian

Pada akhirnya, ujian memang merupakan bagian dari perjalanan pendidikan.

Nilai akademik juga tetap penting.

Namun, pendidikan seharusnya tidak berhenti di sana.

Ketika anak dewasa nanti, kehidupan tidak akan memberikan soal pilihan ganda untuk setiap masalah.

Mereka akan menghadapi keputusan.

Perubahan.

Kegagalan.

Kolaborasi.

Teknologi baru.

Informasi yang belum tentu benar.

Dan berbagai persoalan yang bahkan belum kita bayangkan hari ini.

Karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mempersiapkan anak mendapatkan nilai yang baik.

Sekolah perlu membantu anak menjadi seseorang yang mampu berpikir, mampu belajar, mampu bekerja sama, mampu beradaptasi, dan mampu terus berkembang.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari Finlandia.

Pendidikan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal.

Pendidikan adalah tentang mempersiapkan mereka untuk menghadapi dan membangun dunia yang akan mereka jalani.

Dan untuk melakukan itu dengan baik,

kami sebagai pendidik juga harus terus belajar.

Konsultasikan kebutuhan pendidikan anak bersama tim Akses Independent School dan temukan pilihan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak Anda.

Konsultasi Pendidikan Sekarang →
https://ai-school.id/

Lihat Program Formal School →
https://ai-school.id/formal-school/pre-school/

Lihat Program Homeschooling →
https://ai-school.id/homeschooling/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *