Lompat ke konten utama

Akses Independent School

Setiap Anak Berhak Merasa Aman di Sekolah

Ada satu hal yang seharusnya menjadi kesepakatan bersama dalam dunia pendidikan:

Tidak ada seorang pun yang boleh menjadi korban bullying.

Bukan karena anak tersebut berbeda.

Bukan karena warna kulitnya berbeda.

Bukan karena bentuk tubuhnya berbeda.

Bukan karena kemampuan akademiknya berbeda.

Bukan karena kondisi ekonominya berbeda.

Bukan karena ia pendiam.

Bukan karena ia terlalu aktif.

Dan bukan karena alasan apa pun.

Setiap anak datang ke sekolah dengan harapan yang sederhana:

ingin belajar, bertumbuh, memiliki teman, dan merasa aman.

Namun, ketika seorang anak justru merasa takut datang ke sekolah, merasa dipermalukan, dikucilkan, atau terus-menerus menjadi sasaran ejekan dan kekerasan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah lingkungan pendidikan kita sudah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi setiap anak?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian Akses Independent School.


Bullying Bukan Sekadar “Bercanda”

Dalam kehidupan anak-anak, bercanda merupakan bagian dari interaksi sosial.

Anak dapat saling menggoda.

Anak dapat tertawa bersama.

Anak dapat berbeda pendapat.

Semua itu dapat menjadi bagian dari proses belajar bersosialisasi.

Namun, ada batas yang sangat penting untuk dipahami.

Ketika sebuah tindakan dilakukan berulang kali, bertujuan menyakiti atau mempermalukan, menciptakan ketimpangan kekuatan, atau membuat seorang anak merasa takut, terasing, dan tidak berdaya, kita tidak lagi berbicara tentang sekadar bercanda.

Kita berbicara tentang bullying.

UNESCO menjelaskan bahwa bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan di lingkungan sekolah dan dapat berbentuk fisik, verbal, psikologis, relasional, maupun terjadi melalui dunia digital. Anak yang dipersepsikan berbeda juga dapat lebih rentan menjadi sasaran, termasuk karena penampilan fisik, latar belakang etnis, bahasa, budaya, status sosial, gender, atau disabilitas.

Karena itu, kalimat seperti:

“Namanya juga anak-anak.”

tidak selalu cukup untuk menjelaskan sebuah persoalan.

Sesuatu yang bagi satu anak terlihat seperti candaan, bagi anak lainnya dapat menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan.


Dampak Bullying Tidak Berhenti di Gerbang Sekolah

Bullying bukan hanya persoalan hubungan antarsiswa.

Dampaknya dapat masuk jauh ke dalam kehidupan seorang anak.

Menurut sumber yang digunakan dalam naskah ini, bullying berkaitan dengan masalah kesehatan mental dan kesejahteraan, rasa kesepian, menurunnya keterlibatan dalam pendidikan, serta capaian akademik yang lebih rendah. Anak yang sering mengalami bullying juga dapat lebih mungkin merasa seperti orang luar di sekolah dan menghindari sekolah.

Artinya, seorang anak yang menjadi korban bullying mungkin tidak hanya berpikir:

“Saya tidak punya teman.”

Ia mungkin sedang menghadapi pertanyaan yang jauh lebih dalam:

  • Apakah saya diterima?
  • Apakah saya aman?
  • Apakah saya berharga?
  • Mengapa saya berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memengaruhi cara seorang anak melihat dirinya sendiri.

Karena itu, menangani bullying bukan hanya tentang menghentikan sebuah tindakan.

Kita juga perlu membantu anak mendapatkan kembali rasa aman dan harga dirinya.


Sekolah yang Aman Juga Mendukung Proses Belajar

Kadang muncul anggapan bahwa selama nilai akademik anak baik, berarti tidak ada masalah besar.

Padahal, lingkungan sekolah yang aman merupakan bagian dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Data OECD melalui PISA 2022 menunjukkan bahwa siswa yang merasa lebih aman di sekolah cenderung memiliki kesejahteraan yang lebih baik, termasuk rasa memiliki terhadap sekolah dan kepuasan hidup yang lebih tinggi. Data yang sama juga menunjukkan bahwa bullying masih menjadi persoalan di berbagai negara.

Dengan demikian:

Sekolah yang aman bukan kemewahan.

Sekolah yang aman merupakan bagian dari proses belajar.

Anak yang merasa aman memiliki ruang yang lebih besar untuk berkonsentrasi, bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, belajar kembali, dan berkembang.


Indonesia Juga Menghadapi Tantangan Bullying

Persoalan bullying bukan hanya terjadi di negara lain.

Indonesia juga menghadapi tantangan yang sama.

Dalam PISA 2022, sekitar 25% siswi dan 30% siswa di Indonesia melaporkan menjadi korban tindakan bullying setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Angka tersebut dibandingkan dengan sekitar 20% untuk masing-masing kelompok dalam rata-rata OECD. Pada saat yang sama, terdapat perbaikan pada beberapa indikator bullying di Indonesia dibandingkan 2018, termasuk penurunan proporsi siswa yang melaporkan teman menyebarkan rumor buruk.

Data tersebut seharusnya tidak digunakan untuk menyalahkan sekolah, guru, orang tua, ataupun anak.

Justru sebaliknya.

Data adalah alasan untuk memperbaiki diri.

Jika masih ada anak yang merasa tidak aman di sekolah, maka kita memiliki alasan untuk bertanya:

Apa yang dapat kita lakukan dengan lebih baik?


Belajar dari Sistem Pendidikan yang Membangun Budaya Inklusi

Ketika melihat berbagai sistem pendidikan di dunia, terdapat sebuah perubahan cara pandang yang penting untuk dipelajari.

Perbedaan manusia semakin dipandang sebagai sesuatu yang perlu dihormati, bukan alasan untuk merendahkan.

Perbedaan tersebut dapat berupa:

  • Warna kulit
  • Asal negara
  • Bahasa
  • Budaya
  • Kondisi fisik
  • Latar belakang keluarga
  • Kemampuan
  • Dan berbagai karakteristik lainnya

Tentu kita tidak dapat mengatakan bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan maju sudah bebas dari bullying.

Faktanya, bullying masih ditemukan di berbagai negara.

Namun, beberapa sistem pendidikan menunjukkan bahwa budaya sekolah dapat dibangun agar bullying semakin tidak diterima, sekaligus menciptakan iklim sekolah yang lebih aman dan rasa memiliki yang lebih kuat.

Jadi, yang dapat kita pelajari bukanlah:

“Mereka sudah sempurna.”

Melainkan:

“Mereka telah menunjukkan bahwa budaya sekolah dapat dibangun agar bullying semakin tidak diterima.”

Dan menurut kami, hal tersebut sangat layak untuk dipelajari.


Ketika Perbedaan Warna Kulit Tidak Menjadi Alasan untuk Merendahkan

Salah satu bentuk bullying yang perlu mendapatkan perhatian adalah bullying yang didasarkan pada identitas atau karakteristik fisik seseorang.

Warna kulit, misalnya.

Penampilan fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menjadi alasan seseorang mengalami bullying. Ras, kebangsaan, dan warna kulit juga termasuk karakteristik yang dilaporkan sebagai alasan bullying dalam berbagai survei.

Dalam masyarakat yang semakin global, anak-anak akan bertemu dengan manusia dari berbagai latar belakang.

Mereka akan bertemu dengan orang yang berbeda bahasa.

Berbeda warna kulit.

Berbeda budaya.

Berbeda pengalaman.

Berbeda cara berpikir.

Karena itu, pendidikan yang baik tidak cukup hanya mengatakan:

“Jangan mengejek orang lain.”

Anak juga perlu belajar memahami sesuatu yang lebih mendasar:

“Mengapa manusia yang berbeda tetap memiliki martabat yang sama?”


Dari “Berbeda” Menjadi “Berharga”

Ada perubahan cara pandang yang ingin terus kami dorong.

Ketika melihat seseorang yang berbeda, jangan langsung bertanya:

“Mengapa dia berbeda dari saya?”

Tetapi belajar bertanya:

“Apa yang dapat saya pelajari dari perbedaan ini?”

Perbedaan tidak selalu sesuatu yang harus diseragamkan.

Justru keberagaman dapat menjadi sumber pembelajaran.

Anak yang berbeda budaya dapat memperkenalkan perspektif baru.

Anak yang memiliki kemampuan berbeda dapat mengajarkan empati.

Anak yang memiliki minat berbeda dapat membuka wawasan baru.

Anak yang berasal dari lingkungan berbeda dapat memperkenalkan pengalaman yang sebelumnya tidak kita kenal.

Dengan cara pandang seperti ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan.

Sekolah juga menjadi tempat anak belajar hidup bersama manusia lain.


Peran Orang Tua dalam Menghadapi Bullying

Orang tua memiliki peran yang sangat penting ketika anak mengalami bullying.

Tidak semua anak akan langsung bercerita.

Seorang anak mungkin takut dianggap lemah.

Takut dimarahi.

Takut masalah menjadi lebih besar.

Atau bahkan berpikir bahwa apa yang dialaminya memang pantas diterima.

Karena itu, rumah perlu menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbicara.

Ketika anak menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan, respons pertama tidak harus berupa:

“Kamu salah apa?”

Percakapan dapat dimulai dengan kalimat sederhana:

“Ceritakan kepada Ayah/Ibu. Kami mendengarkan.”

Anak perlu mengetahui bahwa ketika ia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, ia tidak sendirian.


Peran Guru dan Sekolah dalam Menangani Bullying

Sekolah juga memiliki tanggung jawab penting.

Ketika seorang anak melaporkan bullying, respons sekolah dapat memberikan dampak besar terhadap rasa aman anak.

Tujuannya bukan untuk langsung menghakimi.

Bukan pula untuk mencari siapa yang harus dipermalukan.

Sekolah perlu berupaya untuk:

  1. Mendengarkan laporan.
  2. Memastikan keselamatan anak.
  3. Memahami fakta yang terjadi.
  4. Melindungi anak yang menjadi korban.
  5. Membina siswa yang melakukan bullying.
  6. Melibatkan orang tua bila diperlukan.
  7. Mencegah kejadian serupa berulang.

Menurut sumber yang digunakan dalam artikel ini, pendekatan untuk menurunkan bullying dapat mencakup iklim sekolah yang aman dan positif, sistem pelaporan dan pemantauan yang efektif, program berbasis bukti, pelatihan guru, dukungan bagi siswa yang terdampak, serta keterlibatan siswa dalam membangun lingkungan sekolah.

Artinya, menangani bullying bukan sekadar menghukum pelaku.

Kita perlu membangun sistem yang mencegah bullying dan membantu semua anak belajar dari kejadian tersebut.


Akses Independent School Sangat Concern terhadap Hal Ini

Bagi Akses Independent School, persoalan bullying bukanlah persoalan kecil.

Kami ingin sekolah menjadi tempat di mana seorang anak dapat berkata:

“Saya aman di sini.”

“Saya diterima di sini.”

“Saya boleh menjadi diri saya sendiri.”

“Saya boleh berbeda.”

Dan pada saat yang sama:

“Saya tetap harus menghormati orang lain yang berbeda dari saya.”

Kami ingin anak-anak memiliki keberanian untuk berprestasi.

Tetapi kami juga ingin mereka memiliki keberanian untuk menghargai.

Kami ingin mereka memiliki kemampuan akademik.

Tetapi kami juga ingin mereka memiliki empati.

Kami ingin mereka mampu bersaing.

Tetapi kami tidak ingin mereka belajar bahwa keberhasilan harus dicapai dengan merendahkan orang lain.


Tidak Ada Anak yang Boleh Menjadi Korban Hanya Karena Ia Berbeda

Kami ingin menyampaikan sebuah pesan yang sederhana:

Tidak ada anak yang pantas menjadi korban bullying hanya karena ia berbeda.

Berbeda warna kulit.

Berbeda bentuk tubuh.

Berbeda kemampuan akademik.

Berbeda kondisi fisik.

Berbeda budaya.

Berbeda latar belakang keluarga.

Berbeda minat dan bakat.

Perbedaan bukan alasan untuk menyakiti.

Dan kemampuan yang lebih tinggi bukan alasan untuk merendahkan.

Justru semakin besar kemampuan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kesempatan yang ia miliki untuk membantu orang lain.


Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal-Hal Kecil

Budaya anti-bullying tidak dibangun hanya melalui poster bertuliskan:

“Stop Bullying.”

Budaya tersebut dibangun melalui kebiasaan sehari-hari.

Bagaimana guru berbicara kepada siswa.

Bagaimana siswa berbicara kepada temannya.

Bagaimana kita memperlakukan anak yang berbeda.

Bagaimana sekolah merespons ketika seseorang melakukan kesalahan.

Bagaimana anak belajar meminta maaf.

Bagaimana anak belajar memaafkan.

Bagaimana anak belajar mengatakan:

“Saya tidak setuju, tetapi saya tetap menghormati kamu.”

Dan bagaimana seorang anak belajar bahwa:

Menjadi kuat bukan berarti harus membuat orang lain merasa lemah.


Sekolah yang Baik Tidak Hanya Menghasilkan Anak Pintar

Pada akhirnya, kita kembali kepada pertanyaan yang lebih besar:

Untuk apa pendidikan?

Jika pendidikan hanya bertujuan menghasilkan anak dengan nilai tinggi, mungkin kita cukup mengajarkan mata pelajaran.

Tetapi jika pendidikan bertujuan membentuk manusia, maka kita perlu mengajarkan jauh lebih banyak.

Kita perlu mengajarkan:

  • Ilmu
  • Karakter
  • Empati
  • Tanggung jawab
  • Sopan santun
  • Keberanian
  • Rasa hormat
  • Kemampuan hidup bersama

Anak-anak kita kelak bukan hanya akan menjadi pekerja.

Mereka akan menjadi orang tua.

Pemimpin.

Guru.

Dokter.

Insinyur.

Pengusaha.

Atlet.

Seniman.

Pembuat kebijakan.

Dan anggota masyarakat.

Cara mereka memperlakukan manusia lain hari ini dapat menjadi bagian dari gambaran bagaimana mereka memperlakukan masyarakat ketika dewasa.


Akses Independent School Ingin Terus Belajar

Kami tidak menganggap bahwa Akses Independent School sudah memiliki jawaban yang sempurna.

Justru kami ingin terus belajar.

Belajar dari penelitian.

Belajar dari pengalaman sekolah-sekolah di berbagai negara.

Belajar dari guru.

Belajar dari orang tua.

Belajar dari anak-anak.

Dan terus memperbaiki budaya sekolah kami sendiri.

Kami ingin mengikuti perkembangan dunia pendidikan modern, termasuk bagaimana berbagai negara membangun sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman.

Namun, kami juga ingin mengadaptasi pembelajaran tersebut dengan nilai-nilai yang sesuai dengan Indonesia.

Karena pendidikan bukan tentang meniru negara lain.

Pendidikan adalah tentang belajar dari dunia untuk membangun manusia yang lebih baik di tempat kita sendiri.


Bersama-sama Membangun Sekolah yang Aman

Tidak ada sekolah yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan sosial hanya dengan satu kebijakan.

Dibutuhkan kerja sama.

Guru.

Orang tua.

Siswa.

Sekolah.

Dan masyarakat.

Kita semua memiliki peran.

Jika seorang anak melihat temannya dirundung, ia dapat memilih untuk tidak ikut menertawakan.

Jika seorang guru melihat sesuatu yang tidak benar, ia dapat memilih untuk tidak mengabaikannya.

Jika orang tua melihat perubahan perilaku anak, ia dapat memilih untuk mendengarkan.

Jika sekolah menerima laporan, sekolah dapat memilih untuk menanganinya dengan serius dan bijaksana.

Karena perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan-keputusan kecil.


Karena Setiap Anak Berhak Pulang dari Sekolah dengan Hati yang Lebih Baik

Akses Independent School ingin menjadi bagian dari pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan akademik.

Kami ingin membangun anak-anak yang:

Cerdas, tetapi rendah hati.

Percaya diri, tetapi tidak merendahkan.

Berani, tetapi tetap santun.

Mampu bersaing, tetapi mampu bekerja sama.

Berbeda, tetapi tetap saling menghormati.

Dan yang paling penting:

Anak-anak yang memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat.

Kami percaya bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat di mana anak pulang bukan dengan rasa takut karena menjadi dirinya sendiri.

Sebaliknya, anak dapat pulang dengan perasaan:

“Hari ini saya belajar sesuatu.”

“Hari ini saya berkembang.”

“Hari ini saya punya teman.”

“Hari ini saya merasa dihargai.”

Karena pendidikan yang baik bukan hanya tentang apa yang anak bawa pulang di dalam kepalanya.

Tetapi juga tentang apa yang tumbuh di dalam hatinya.

Bagi Akses Independent School, menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, menghargai perbedaan, menolak bullying, serta menumbuhkan empati merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan.

Tidak ada seorang pun yang boleh menjadi korban bullying.

Dan kita semua memiliki peran untuk membuat sekolah menjadi tempat yang lebih aman bagi setiap anak.

Konsultasi Pendidikan Sekarang →
https://ai-school.id/

Lihat Program Formal School →
https://ai-school.id/formal-school/pre-school/

Lihat Program Homeschooling →
https://ai-school.id/homeschooling/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *